Homeschooling dan Peran Orangtua

Wiwin Herwina dalam “Penerapan Homeschooling sebagai Model Pendidikan Alternatif bagi Masyarakat Perdesaan” (2016; 9) menjelaskan homeschooling adalah model pendidikan di mana keluarga memilih bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Selain itu, dosen Prodi Pendidikan Luar Sekolah Universitas Siliwangi tersebut juga mengatakan bahwa homeschooling menjadikan rumah sebagai basis pelaksanaan proses belajar mengajar.

Ada dua hal yang penting dalam pendidikan homeschooling menurut Wiwin yang ia kutip dari Marsha Ransom, penulis buku The Complete Idiot’s Guide to Homeschooling. Pertama, sebagian besar pelaksana homeschooling melakukan aktivitas belajar di rumah dengan “membeli” kurikulum yang telah terstruktur. Kedua, orangtua dan anak bertanggung jawab terhadap pendidikan dan proses belajar. Mereka memutuskan hal-hal seperti apa yang akan dipelajari dan waktu juga bagaimana cara belajar.

Terkait peran orangtua selama homeschooling, penelitian yang dilakukan oleh Dan Carpenter dan Courtney Gann yang bertajuk “Educational Activities and the Role of the Parent in Homeschool Families with High School Students” (2015) menyebutkan bahwa orangtua lebih sering berlaku sebagai fasilitator atau pengatur aktivitas pendidikan anak. Mereka, menurut Carpenter dan Gann, tidak berperan banyak sebagai pemberi instruksi langsung ketika kelas dalam konteks homeschooling.

Baca juga:

Kesimpulan ini didapat usai Carpenter dan Gann melakukan riset dengan metode studi kasus terhadap tiga keluarga dengan anak usia SMA yang menjalani sekolahrumah komunitas di negara bagian selatan Amerika Serikat. Mereka lantas menemukan bahwa para ibu berperan sebagai orangtua sekaligus guru. Namun, guru yang dimaksud di sini lebih mengarah pada peranan pengaturan.

Mereka, lanjut Carpenter dan Gann, lebih sering mencarikan tutor dan kursus yang bisa diikuti oleh sang anak. Para ibu juga kerap mendampingi dan membantu ketika belajar, menulis makalah, dan sebagainya.

Kepada Tirto, Zia dan Asa, orangtua homeschooler yang tinggal di Yogyakarta, mengatakan bahwa orangtua memang berperan penting ketika anak menjalani sekolahrumah. Orangtua sebagai penanggung jawab homeschooling dalam hal ini bertindak sebagai pendidik maupun manajer aktivitas pendidikan yang dijalani sang anak.

Keduanya lantas menceritakan bahwa anak mereka yang kini berusia empat tahun menjalani homeschooling komunitas yang berlangsung dari hari Senin hingga Jumat pada pukul 8 pagi sampai 11 siang.

“Setelah jam itu mereka bebas untuk belajar untuk kelas kecil dan besar. Ada waktu khusus juga untuk anak-anak menghapal Al-Qur’an,” kata Asa kepada Tirto. Orang yang berperan sebagai guru saat homeschooling komunitas berlangsung adalah para orangtua homeschooler tersebut, kecuali saat membaca kitab suci.

Asa menjelaskan ia dan suami memilih cara itu lantaran sekolah formal tidak bisa mengakomodasi nilai inti keluarga yang dianut.

Core value keluarga kami adalah dakwah dan seni. Itu bisa berjalan dengan homeschooling, kalau di sekolah umum itu tidak. [Jadi] ini pilihan yang didasari bukan karena homeschooling paling bagus tapi paling sesuai dengan core value keluarga,” ujarnya.

Zia mengatakan bahwa homeschooling pada dasarnya tidak menitikberatkan kesiapan anak melainkan orangtua.

“Mengutip Ivan Illich, orangtua yang memilih homeschooling berarti dia sedang membebaskan diri dari sistem pendidikan yang bersifat mengikat. Tapi konsekuensinya ia juga harus punya komitmen. Ini tidak banyak orangtua yang kemudian siap menerima komitmen ini,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait HOMESCHOOLING atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id – Pendidikan)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani
Reference: tirto.id https://tirto.id/homeschooling-bisa-menjadi-opsi-menarik-tapi-siapkah-orangtua-c8TW